SIAPA ANDA DIBANDINGKAN NABI MUSA ‘ALAIHISSALAM

(Wa fauqo kulli dzi ‘ilmin ‘aliim)

Oleh : Abid Ihsanudin

 Siapa yang tidak mengenal Musa ‘alaihissalam. Seorang Nabi sekaligus Rasul yang menyandang predikat ‘Ulul ‘Azmi. Gelar yang tidak sembarangan. Sebuah gelar yang Allah berikan hanya untuk beberapa Nabi saja, karena kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi setiap cobaan.

Kedekatannya dengan sang pemilik jagad ini pun tidak perlu ditanyakan lagi. Terbukti beliau pernah bercakap-cakap langsung dengan Allah ‘azzawajalla. Coba buka di Al-Qur’an surat Annisa’ ayat 164.

Menariknya, kedudukan mulia yang dimiliki Musa ‘alaihissalam tidak lantas membuat beliau sombong lagi jumawa. Meskipun kita meyakini beliau adalah orang yang sangat dalam pengetahuannya tentang Allah ‘azzawajalla.

Bahkan di dalam surat Al-Kahfi, Allah menerangkan tentang ketawadhu’an seorang Musa ‘alaihissalam ketika bermohon kepada Khadir, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”, tepat di ayatnya yang ke 66.

“Seandainya ada orang yang merasa cukup dengan ilmu, maka Musa ‘alahissalam tentu sudah merasa cukup”, terang Qatadah dalam buku tulisan Ibnu Abdil Barr rahimahullah, Jami’ Bayan Al-‘Ilm wa Fadhlih (1/418). Kemudian beliau membaca ayat ke-66 surat Al-Kahfi.

Dikatakan pula oleh Syaikh Sa’id Hawwa rahimahullah, bahwa surat Al-Kahfi ayat ke-66 berisi dalil bahwa tidak seyogyanya seseorang meninggalkan thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu), sekalipun ia sudah berilmu tinggi, dan hendaknya ia bersikap tawadhu’ kepada orang yang lebih berilmu darinya. Ayat ini juga berisi dalil bahwa setiap kali jiwa seseorang tinggi, maka tidak ada kesombongan yang masih tersisa di dalam dirinya. Inilah Musa, salah satu rasul ‘Ulul ‘Azmi. Beliau tidak merasa rendah untuk meminta kepada Khadir agar dia mau mengajarinya. (Al-Asas fi At-Tafsir, 6/3215)

‘Wa fauqo kulli dzi ‘ilmin ‘alim’, “Dan di atas tiap-tiap pemilik ilmu, ada yang jauh lebih dalam ilmunya.” Surat Yusuf ayat ke-76.

Untuk itu, perlu sekali kita bermuhasabah alias introspeksi diri. Dibandingkan Nabi Musa, ilmu kita tidak ada apa-apanya. Tapi mengapa kemalasan kita menuntut ilmu mengalahkan malasnya karang di lautan. Sekalipun air laut berulang kali menghantamnya, dia tetap enggan berpindah dari tempatnya.

Jadi, kalau Anda masih malas mendatangi guru karena Anda merasa lulusan ini, lulusan itu, sudah belajar kitab ini dan itu. Bahkan dengan sombong mengatakan, “saya sudah khatam belajar Al-Qur’an”, hanya satu pertanyaan saya, siapa Anda dibandingkan Nabi Musa ‘alaihissalam?

Wallohu a’lam

ShareThis