Ma'had 'Aly Tahfizhul Qur'an
Darul Ulum
Buniaga - Bogor - Jawa Barat
Abid Ihsanudin

Pitstop untuk Para Penghafal Al-Qur’an

Sesekali, simaklah pertunjukan balap mobil F1 di youtube. Semua pembalap mengemudi mobil dengan kencang. Ternyata, hal terpenting dalam strategi memenangkan lomba balap ini adalah pit-stop (berhenti sejenak). Tak seorang pembalap, betapapun kencangnya mereka melaju, bisa memenangi lomba tanpa mengambil minimal sekali pit-stop. Bahkan aturan terbaru, ditambah menjadi minimal dua kali pit-stop. Dalam pit-stop, para pembalap melakukan penyegaran, menerima arahan, melakukan perbaikan mesin, mengisi tangki bahan bakar, mengganti ban dan berangkat lagi dalam keadaan segar dan semangat baru.

Uniknya lagi, dengan semakin berkembangnya pengetahuan dan teknologi, semakin singkat pula waktu yang dibutuhkan sebuah mobil untuk menerima beberapa macam service tadi. Tercatat, Redbule yang dikendarai Max Verstappen berhasil menorehkan rekor pitsop tercepat. Yaitu 1,88 detik ketika mengganti keempat ban Verstappen pada gelaran GP Jerman 2019 lalu. Dan pada saat yang sama, sang pembalap juga berhasil menjadi yang tercepat dalam gelaran tersebut.

Lantas, apa pelajarannya?

Jika kita renungi, pit-stop ini mirip dengan liburannya para santri penghafal Al-Qur’an. Ya, santri juga butuh rehat dari aktivitas harian yang terus menerus dilakukan. Untuk menjaga kesemangatan. Supaya selepas liburan, berangkat lagi dalam keadaan lebih segar dan semangat.

Jadi, tujuan adanya liburan adalah untuk isi bahan bakar ulang, sebab lintasan di depan masih jauh. Menyegarkan pikiran agar tidak jenuh, mengisi energi untuk pertarungan yang lebih berat.

Bukan malah sebaliknya, menghabis-habiskan bahan bakar, mengganti isi pikiran dan membuang-buang energi. Terutama untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Dan terjadilah apa yang terjadi. Hafalan lama buyar, karena tidak dimuraja’ah. Hafalan baru berat, seperti sedang beradaptasi dengan aktivitas baru.

Hal inilah yang perlu diwaspadai. Sebab, meskipun kegiatan kepondokan libur, muraja’ah bagi penghafal Al-Qur’an tidak boleh libur. Boleh saja dikurangi porsinya, tapi tidak boleh dihilangkan sama sekali.

Ingat, sebagaimana lomba F1 adalah adu kecepatan dan strategi. Dan seringkali kemenangan sangat ditentukan oleh bagaimana penentuan waktu serta manajemen pit-stop.

Menghafal Al-Qur’an pun sama. Beradu dengan kecepatan dan bagus-bagusan strategi. Dan sama, mereka yang menang adalah mereka yang pandai mengatur waktu dan memanajemen pit-stop (dibaca liburan).

Belajar dari Kisah Thalut

Kali ini, mari kita belajar dari kisahnya Thalut. Ketika orang yang Allah angkat sebagai raja ini memimpin Bani Israil perang melawan Jalut yang zhalim.

Sebelum akhirnya mengalahkan Jalut, Thalut berpesan kepada pasukannya, “Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan suatu sungai. Maka siapa diantara kalian meminum airnya, maka ia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, kecuali menciduk seciduk tangan, maka dia adalah pengikutku.”

Ternyata, mayoritas pasukan Thalut meminumnya. Mereka yang lelah, kepanasan, kehausan, lalu bertemu sungai jernih, tidak sanggup lagi menahan diri. Seluruh gejolak nafsu itu, mereka luapkan. Mereka langsung menyerbu sungai, kebanyakan mereka menyebur dan minum sebanyak-banyaknya.

Maka ketika Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Mereka telah dibuat loyo karena terlalu kenyang. Fisiknya melemah dan tidak lincah lagi.

Maka berangkatlah sisa pasukan yang tinggal sedikit itu bersama Thalut. Dengan gagah mereka mengatakan, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 249)

Begitulah Al-Qur’an mengisahkan salah satu momen Thalut memimpin sebuah pasukan. Allah Ta’ala mengaitkan kemenangan suatu pertempuran fisik dengan pendahuluan berupa pertempuran melawan hawa nafsu pribadi. Sebab, kemenangan mustahil diraih oleh orang yang hanyut dalam hawa nafsunya.

Belajar dari kisah Thalut, maka setidaknya ada tiga karakter santri penghafal Qur’an ketika bertemu waktu libur. 

1. Minum sampai puas. 

Jika kata ‘minum’ dibaca ‘libur’, maka kalimatnya menjadi ‘libur sampai puas’. Menggambarkan santri yang menghabiskan waktu libur dengan penuh semangat dan tak bisa mengendalikan diri. Melampiaskan segala keinginan yang sudah lama di tahan. Nonton film, ngegame, dan nongkrong berjam-jam. Spend waktu untuk hal-hal yang tidak produktif.

Mirisnya, ini dibarengi dengan kelalaiannya mengulang hafalan Al-Qur’an. Jangankan muraja’ah, tilawah saja tidak sempat. Wal’iyadzubillah

Akhirnya, setelah menyeberangi sungai yang bernama liburan, badan, hati, pikiran, telah kekenyangan. Berat untuk melanjutkan pertarungan. Bisa sih, hanya saja dia akan terseok seok dan tidak sebugar sebelumnya. Butuh waktu.

Semoga tidak ada santri yang modelnya begini.

2. Tidak minum sama sekali.

Golongan ini sangat sedikit. Golongan santri yang jujur dengan cita-citanya. Golongan yang memahami betapa mahalnya harga kesempatan. Keyakinannya akan janji Allah telah menundukkan segala keinginan yang sempat terlintas. Meskipun harus menahan lelah dan dahaga.

Baginya, hari libur dan tidak libur itu sama saja. Sehingga, usai libur mereka tidak butuh lagi menyesuaikan diri. Merekalah penghafal Al-Qur’an sejati. Yang lebih suka berdua-duaan dengan Al-Qur’an, membaca dan mentadaburinya. Tidak jarang mereka mendatangi majlis-majlis ilmu untuk semakin memahami isi Al-Qur’an. Bersilatul ukhuwah dengan orang-orang sholih untuk saling memberi semangat beramal sholih.

3. Hanya mencicipi.

Ini adalah golongan santri pertengahan. Tetap refreshing tapi tidak berlebihan. Liburan jalan, muraja’ah dan tilawah juga jalan. Meskipun tidak seintens di luar liburan, interaksi bersama Al-Qur’an minimal mampu menjaga spirit sebelum menghadapi pertempuran yang akan dihadapi. Sehingga tidak butuh waktu lama untuk mengembalikan ritme ziyadah dan muraja’ah.

Dari ketiga karakter tadi, semoga kita dijauhkan dari karakter pertama. Mudah terlena dan luntur semangatnya gegara tidak dapat menahan nafsu diri.

Dan seandainya belum sanggup berada pada karakter yang kedua, minimal yang ketiga. Yang Allah selamatkan dari fitnah dan tipu daya dunia. Dan keduanya adalah golongan orang-orang yang bahagia bersama orang-orang yang menang. 


Dan perlu diingat, bahwa kemenangan sesungguhnya bagi para penghafal Al-Qur’an adalah ketika Al-Qur’an berhasil mewarnai seluruh sendi kehidupan seseorang. Bukan hanya ketika masih nyantri. Tapi juga setelah menjadi alumni.

Bukan hanya pandai menghafalkan dan piawai melantunkan ayat-ayatnya saja. Tapi lebih dari itu.

Hafalannya tercermin dalam setiap jengkal langkah dan hembusan nafasnya. Lantunan ayatnya menginspirasi setiap gerak-gerik dan kata-katanya. Yang Al-Qur’an menjadi akhlaqnya, sebagaimana akhlaq sang baginda Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. (ai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *