Abid Ihsanudin

Orang Sakit Minta Sate

Utsman bin Affan pernah berkata,

لو طهرت قلوبنا ما شبعت من كلام ربنا

“Sekiranya hati kita bersih, niscaya tidak pernah merasa kenyang dan bosan dari membaca Kalamullah.”

Dari perkataan ‘Utsman bin ‘Affan ini bisa dipahami bahwa Al-Qur’an itu dapat dijadikan media pendeteksi kondisi hati.

Kalau ingin tahu apakah hati dalam kondisi baik atau tidak (dibaca : sakit), caranya sangat sederhana. Ambil mushaf dan baca. Kalau baru membaca dua-tiga ayat kok sudah pusing, lemes, pengen buru-buru menyudahi, nah, bisa dipastikan saat itu hati sedang tidak baik-baik saja.

Atau bisa jadi, membacanya sih biasa, bahkan berlembar-lembar atau berjuz-juz, tapi bacaan qurannya tidak membuat dirinya menjauhi perbuatan maksiat. Istilah kerennya, bacaannya tidak melewati kerongkongan. Mandeg di mulut saja dan tidak berefek ke hati. Ini juga sama saja, hatinya sakit

Sebaliknya, hati yang sehat menganggap bahwa membaca Al-Qur’an adalah nutrisi dan gizinya hati. Dia harus selalu dikonsumsi agar hati terproteksi dari virus-virus yang mematikan bagi hati.

Saya mengibaratkan Al-Qur’an ini makanan lezat yang dihidangkan untuk orang yang sedang sakit demam, yang lidahnya pahit. Anggap saja sate ayam lah. Kalau di saat sehat, makan sepuluh tusuk mungkin masih kurang. Tapi bagi orang yang sakit, lidahnya pahit, disodorkan satu tusuk saja kadang tidak habis. Nafsu makannya hilang. Baru dua-tiga gigitan merasa sudah kenyang.

Meskipun begitu, biasanya orang yang sakit tetap dipaksa makan. Karena makanan adalah sumber energi bagi tubuh.

“wetengmu isenana ora ketung sesendok rong sendok” ,

‘makanlah meskipun Cuma satu atau dua sendok’. Begitu kan nasihat simbah kamu kalau kamu sakit. Intinya, dipaksa makan. Biar nggak tambah lemes. Apalagi habis ditinggal nikah. Lemes tenan.

Sama, hati yang sakit juga butuh dipaksa. Seberat apapun rasanya, memaksanya akan menyembuhkan hati yang luka. Ibarat obat merah atau salep yang dioleskan pada luka luar. Meski perih rasanya, tetap harus dioles. Ya, kan biar cepet sembuh.

Kalau sudah tahu begini, tinggal praktiknya. Selamat mencoba, memaksa, dan menikmatinya.

Semoga lekas sembuh,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *