Muhasabah dan Muraqabah

Allah berfirman,

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (ke hadapannya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya, ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh, dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri (siksa)-Nya.” (Ali Imran: 30).

”Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan, jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun bisa Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan, cukuplah Kami bagi orang-orang yang membuat perhitungan.” (Al-Anbiya’: 47).

“Dan, diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan, Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (Al Kahfi: 49).

“Pada hari itu manusia keluar dari kuburannya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan, barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Az-Zalzalah: 6-8).

Ayat-ayat ini dan ayat-ayat lain yang senada menunjukkan adanya hisab pada hari akhirat.

Orang-orang yang memiliki mata hati merasa yakin bahwa mereka tidak bisa lepas dari bahaya hisab ini, kecuali dengan melakukan muhasabah (perhitungan) dan muraqabah (pengawasan) terhadap diri sendiri. Barangsiapa melakukan muhasabah terhadap dirinya selagi di dunia, maka hisabnya akan menjadi ringan di akhirat dan tempat kembalinya menjadi baik. Barangsiapa meremehkan muhasabah terhadap dirinya, maka dia akan senantiasa merasa merugi. Mereka juga merasa tidak akan selamat kecuali dengan ketaatan. Sementara Allah memerintahkan mereka untuk sabar dan bersiap siaga. Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga.” (Ali Imran: 200)

Bersiap-siaplah kalian, pada awal mulanya dengan cara musyarathah (menetapkan syarat), kemudian dengan muraqabah, muhasabah, mu’aqabah (hukuman), mujahadah (usaha), kemudian dengan mu’atabah (celaan). Dalam runtutannya mereka memiliki enam kedudukan, dasarnya adalah muhasabah. Tapi setiap hisab harus melalui musyarathah dan muraqabah. Kemudian jika merasa ada kerugian disusul dengan mu’atabah dan mu’aqabah. Inilah keterangan dari masing-masing kedudukan ini:

Tak berbeda dengan pedagang yang bekerja sama dengan sekutunya untuk mendapatkan keuntungan, mengikat janji dan membuat perhitungan yang matang, begitu pula akal yang perlu bersekutu dengan jiwa, yang menugasinya dengan beberapa kewajiban, menetapkan kepadanya beberapa  syarat dan membimbingnya ke jalan keberuntungan. Akal juga tidak lalai mengawasi jiwa. Sebab akal tidak merasa aman dari pengkhianatannya dan tindakannya yang menghambur-hamburkan modal. Setelah tugas dilaksanakan, akal harus menghisab dan menuntutnya untuk memenuhi apa yang telah disyaratkan kepadanya. Laba perdangannya ini adalah surga Firdaus yang paling tinggi. Hisab yang mendetail terhadap jiwa ini jauh lebih penting daripada mencari detail-detail keuntungan duniawi. Maka ditetapkan kepada siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhirat agar tidak lalai menghisab jiwanya, mempersempit ruang gerak dan apa yang melintas di dalamnya. Sebab setiap hembusan napas merupakan butir-butir mutiara yang sangat berharga dan tidak akan ada gantinya.

Jika seorang hamba selesai mengerjakan shalat subuh, maka dia harus mengosongkan hatinya barang sejenak untuk menetapkan syarat terhadap jiwanya, seraya berkata kepada jiwanya sendiri, “Aku tidak mempunyai barang dagangan kecuali umur. Jika modal usaha ini lepas dariku, maka tidak ada lagi harapan untuk menjalankan perdagangan dan mencari laba. Pada hari yang baru ini Allah masih memberi peluang kepadaku dan masih menunda ajalku serta memberikan anugerah kepadaku. Andaikan Allah mematikan aku, tentu aku akan berharap agar Dia mengembalikan aku ke dunia, hingga aku dapat berbuat amal shalih. Maka buatlah perhitungan wahai jiwa, bahwa seakan-akan engkau telah dimatikan lalu dikembalikan lagi. Maka janganlah engkau sia-siakan hari ini, dan ketahuilah bahwa dalam sehari dan semalam ada dua puluh empat jam.”

Seorang hamba diberi bentangan dua puluh empat almari yang berjajar rapi setiap harinya. Satu almari dibuka dihadapannya, hingga dia bisa melihat almari itu yang dipenuhi cahaya dari kebaikan-kebaikannya, yang dia kerjakan pada satu jam itu. Dia sangat gembira karena melihat cahaya itu, yang andaikan ditebar kepada para penghuni neraka, tentu akan membuat mereka terheran-heran karena penderitaan mereka di neraka. Lalu almari berikutnya dibuka dihadapannya, yang ternyata hitam dan gelap, menebarkan bau yang busuk. Itulah satu jam yang pada saat itu dia durhaka kepada Allah, yang membuatnya kaget dan kecewa, yang andaikan kekecewaannya ditebarkan kepada para penghuni surga, tentu mereka menghentikan kenikmatan yang mereka reguk. Lalu almari berikutnya dibuka di hadapannya, yang ternyata kosong melompong, yang di dalamnya tidak ada sesuatu yang membuatnya gembira dan tidak pula membuatnya berduka. Itulah satu jam saat dia tidur atau lalai atau menyibukkan diri dengan hal-hal yang mubah. Dia merasa menyesal karena tidak mendapatkan yang lezat, seperti orang yang sebenarnya sanggup memperoleh laba, tapi laba itu lepas dari tangan karena dia meremehkannya. Seperti inilah almari-almari dari setiap jam umurnya.”

Lalu dia berkata kepada jiwanya, “Karena itu berusahalahl pada hari ini untuk mengisi almarimu dan jangan biarkan almari itu kosong melompong, jangan malas dan santai, agar engkau mendapatkan derajat Illiyyin, seperti yang didapatkan orang selain dirimu.”

Sebagian di antara manusia ada yang berkata, “Taruklah bahwa orang yang berbuat buruk diampuni dosanya. Tapi bukankah dia tidak mendapatkan pahala orang-orang yang berbuat baik?”

Inilah nasihat akal kepada jiwa dalam setiap waktunya, kemudian disusul dengan nasihat lain terhadap tujuh anggota tubuhnya, yaitu mata, telinga, lidah, perut, kemaluan, tangan dan kaki, lalu semuanya dipasrahkan kepada jiwa. Sebab jiwalah yang bertugas menangani perdagangan yang abadi ini, hingga amalnya menjadi sempurna. Akal itu juga mengajarinya bahwa pintu-pintu Jahannam itu ada tujuh, sebanyak jumlah anggota tubuh ini. Penetapan pintu-pintu ini berdasarkan kedurhakaan yang dilakukan anggota-anggota tubuh itu. Maka akal menasihati agar jangan sampai membuat anggota-anggota tubuh itu durhaka.

Akal menjaga mata agar tidak memandang apa yang tidak boleh dipandang, atau untuk memandang orang Muslim lainnya dengan pandangan melecehkan atau memandang sesuatu yang sebenarnya tidak dia perlukan. Akal membuat mata sibuk menangani perdagangan dan mencari laba, yaitu memandang keajaiban-keajaiban ciptaan Allah sambil mengambil pelajaran, memandang amal-amal kebaikan untuk ditiru, memandang Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menelaah buku hikmah untuk diambil pelajaran dan manfaatnya.

Begitulah nasihat yang disampaikan akal kepada setiap anggota tubuh, yang memang sesuai dengan tugas masing-masing, terutama lidah dan perut. Di bagian terdahulu sudah kami sebutkan bencana-bencana lidah. Lidah harus dibuat masygul sesuai dengan tujuan penciptaannya, seperti untuk mengingat hamba-hamba Allah ke jalan-Nya, mendamaikan manusia dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Sedangkan tentang perut, akal menugasinya untuk meninggalkan hal-hal yang kotor, menjauhi yang syubhat dan syahwat, sederhana sesuai dengan kebutuhan. Akal mensyaratkan kepada jiwa, bila ada pencampuradukkan dalam masalah ini, maka ia harus menghukum dengan mencegah syahwat perut. Begitu pula yang berlaku untuk semua anggota tubuh yang lain. Jika dirinci satu persatu tentu akan menjadi panjang lebar.

Kemudian akal menekankan penyampaian nasihat kepada jiwa tentang tugas-tugas ibadah yang harus dikerjakan secara ajeg dalam sehari semalam menurut kesanggupannya. Inilah syarat-syarat yang dibutuhkan jiwa setiap harinya. Agar jiwa itu menjadi terbiasa, sehingga lama-kelamaan tidak lagi membutuhkan penetapan syarat. Tetapi hampir setiap hari tidak lepas dari kejadian yang memerlukan hukum baru dan Allah mempunyai hak dalam yang demikian itu, terutama bagi orang-orang yang lebih banyak berkutat dengan kegiatan-kegiatan keduniaan, seperti urusan pemerintahan, perniagaan dan lain-lainnya. Sebab setiap hari tentu ada kejadian baru yang perlu ada penetapan hak bagi Allah. Karena itu dia harus membuat syarat baru yang ditetapkan bagi jiwanya untuk istiqamah dan tunduk kepada kebenaran.

Dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ, وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ, وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا, وَتَمَنِّى عَلَى اللهِ (الأَمَانِيَ).

“Orang yang perkasa ialah yang menundukkan nafsunya dan berbuat untuk kepentingan sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah yang mengikuti nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah dengan berbagai angan-angan.”

Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbangkan diri kalian sebelum kalian ditimbang dan bersiap-siaplah untuk pertemuan agung.”

“Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Rabb kalian), tiada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allah).” (Al Haqqah: 18).

  1. Muraqabah

Jika manusia mau menasihati jiwanya sendiri dan menetapkan syarat-syarat tertentu kepadanya seperti yang sudah kami sebutkan di atas, maka tidak ada yang menyisa selain dari melakukan muraqabah (pengawasan) terhadap jiwa. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan penafsiran tentang ihsan, yaitu tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang ihsan itu. Maka beliau menjawab, “Hendaklah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Dengan perkataan ini beliau memaksudkan agar merasakan keagungan Allah dan pengawasan-Nya saat dia beribadah.

Asy-Syibly pernah memasuki tempat tinggal Ibnu Abil-Husain An-Nury, yang saat itu sedang duduk tenang dan sama sekali tidak bergerak. Asy-Syibly bertanya, “Dari siapakah engkau belajar cara pengawasan dan diam seperti ini?” Ibnu Abil-Husain menjawab, “Dari seekor kucing. Jika dia hendak menerkam mangsanya, maka dia diam dan tak ada selembar bulunya pun yang bergerak.”

Manusia harus mengawasi jiwanya sebelum dan tatkala beramal, apakah amalnya itu digerakkan nafsu, ataukah yang menggerakkannya adalah Allah? Jika dia merasa yang menggerakkannya adalah Allah, maka dia beramal, dan jika bukan Allah, maka dia tidak jadi beramal. Inilah yang disebut ikhlas.

Al-Hasan berkata, “Allah merahmati seorang hamba yang menghentikan hasratnya, jika Allah lepas darinya. Jika tujuannya selain Allah, maka dia menangguhkannya.”

Ini merupakan muraqabah hamba dalam ketaatan, yaitu harus tulus karena Allah. Adapun muraqabah-nya dalam kedurhakaan ialah dengan taubat, penyesalan dan menghentikannya. Muraqabah-nya dalam hal yang mubah ialah dengan memperhatikan adab dan mensyukuri nikmat. Setiap kali ada nikmat, maka dia mensyukurinya. Selagi ada musibah yang menimpa, maka dia bersabar. Semua ini disebut muraqabah.

Wahb bin Munabbih berkata tentang hikmah keluarga Daud, “Orang yang berakal layak untuk tidak melalaikan empat saat, yaitu: Saat dia bermunajat kepada Rabb-nya, saat dia menghisab dirinya, saat dia menemui teman-temannya yang mengingatkan aibnya dan membenarkan dirinya, dan saat dia sendirian dengan kenikmatannya dalam hal-hal yang halal ataukah yang haram. Yang demikian ini akan membantu saat-saatnya yang lain dan bisa menghimpun kekuatan. Saat dia makan dan minum, tidak seharusnya melepaskan diri dari amal-amal yang lebih utama, yaitu dzikir dan berpikir. Makanan yang disantapnya terkandung berbagai keajaiban, yang andaikan dia mau memikirkannya, tentu lebih baik dari sekian banyak amal-amal yang lain.

  1. Muhasabah setelah amal

Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18).

Ayat ini merupakan isyarat untuk melakukan muhasabah setelah amal berlalu. Karena itu Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”

Al-Hasan berkata, “Orang Mukmin itu menjadi pemimpin bagi dirinya, yang akan menghisab dirinya sendiri.” Dia juga berkata, “Sesungguhnya jika ada sesuatu yang menarik hasrat orang Mukmin, maka dia akan berkata, ‘Demi Allah, aku benar-benar tertarik kepadamu dan aku sangat membutuhkanmu. Tapi demi Allah, aku tidak mempunyai cara untuk mendapatkanmu. Di sana ada pembatas antara diriku dan kamu’. Lalu dia memeriksa dirinya sendiri dan berkata, ‘Aku tidak menginginkan barang ini. Apa urusanku dengannya? Demi Allah, aku tidak akan kembali menghampiri barang ini, insya Allah’.”

Orang-orang Mukmin adalah suatu kaum yang dibuat mantap oleh Al-Qur’an, dan Al-Qur’an ini menjadi pembatas antara diri mereka dan kehancuran mereka. Orang Mukmin itu adalah seorang tawanan di dunia. Dia tidak merasa aman hingga bersua Allah. Dia menyadari bahwa sewaktu-waktu dia bisa dijatuhi hukuman, berkenaan dengan pendengaran, penglihatan, lidah dan anggota tubuhnya. Dia bisa dihukum dalam segala hal yang ada pada dirinya.

Ketahuilah bahwa seorang hamba itu dituntut untuk mengikat janji terhadap dirinya pada pagi hari, sebagaimana dia juga akan menuntut dirinya pada sore harinya dan menghisap atas segala apa pun yang ada pada dirinya, tak ubahnya seorang pedagang yang bekerja sama dengan seorang mitra kerja, yang harus melaporkan pembukuannya setiap bulan atau setiap tahun.

Makna muhasabah di sini ialah memeriksa kembali modalnya, laba dan kerugiannya, agar ada kejelasan penambahan ataukah pengurangan. Modal dalam agamanya adalah hal-hal yang wajib. Labanya adalah nafilah dan fadhilah, kerugiannya adalah kedurhakaan. Pertama kali hendaklah dia memeriksa hal-hal yang wajib. Jika dia melakukan kedurhakaan, maka dia harus menghukum diri sendiri dan menghardiknya, agar menyahur apa yang telah dia abaikan.

Ada yang berkata, bahwa Taubah bin Ash-Shimmah adalah orang yang sangat lembut. Dia biasa menghisab dirinya sendiri. Suatu hari dia menghitung-hitung, selagi sudah berumur enam puluh tahun. Dia menghitung hari-hari yang pernah dilewatinya, yaitu sebanyak sebelas ribu hari lebih lima ratus hari. Tiba-tiba saja dia tersentak dan berkata, “Aduhai celaka aku! Apakah aku harus bertemu Allah dengan membawa sebelas ribu lima ratus dosa?” setelah itu dia langsung pingsan dan seketika itu pula dia meninggal dunia. Pada saat itu orang-orang mendengar suara, “Dia sedang meniti ke surga Firdaus.”

Begitulah seharusnya setiap hamba menghisap dirinya sendiri, menghisab setiap hembusan napasnya, kedurhakaan hati dan anggota tubuhnya setiap saat. Andaikata rumah seseorang dilempari dengan sebuah batu atas satu dosa yang dilakukannya, maka dalam jangka waktu yang relatif singkat rumahnya tentu penuh dengan batu. Tapi justru dia bersikap acuh tak acuh dalam mewaspadai setiap kedurhakaannya.

  1. Menghukum diri sendiri atas kelalaiannnya.

Seorang hamba yang menghisab diri sendiri dan melihat ada kelalaian padanya atau dia telah melakukan suatu kedurhakaan, maka dia tidak boleh meremehkannya. Sebab dalam keadaan seperti itu terlalu mudah baginya untuk berkutat dengan dosa dan sulit baginya untuk menyapihnya. Maka dari itu dia harus menghukum diri sendiri dan suatu hukuman yang diperbolehkan, sebagaimana dia menghukum anggota keluarga atau anaknya.

Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa suatu hari dia pergi ke sebuah kebun miliknya, lalu dia kembali lagi, sementara orang-orang sudah selesai shalat ashar. Dia berkata, “Aku tadi pergi ke kebunku, dan ketika kembali orang-orang sudah shalat ashar. Maka kebunku itu akan kushadaqahkan untuk orang-orang miskin.”

Al-Laits berkata, “Rupanya Umar ketinggalan shalat ashar secara berjama’ah. Kami juga meriwayatkan darinya, bahwa suatu hari dia disibukkan suatu urusan hingga tiba waktu shalat maghrib dan di langit terlihat ada dua bintang. Maka dia pun memerdekakan dua wanita budak.”

Dikisahkan bahwa Tamim Ad-Dary Radhiyallahu ‘Anhu ketiduran pada suatu malam hingga pagi hari, sehingga dia tidak sempat shalat tahajud. Maka selama satu tahun penuh dia tidak pernah tidur malam, sebagai hukuman atas keteledorannya.

Adapun hukuman-hukuman yang tidak diperbolehkan, juga tidak diperbolehkan dilakukan. Sebagai contoh, dikisahkan ada seorang laki-laki dari Bani Israel yang meletakkan tangannya di atas paha seorang wanita, lalu dia meletakkan tangannya itu di atas api hingga mengelupas. Ada pula orang lain yang melangkahkan kakinya untuk menghampiri seorang wanita. Setelah berpikir, dia berkata, “Apa yang kulakukan ini?” ketika dia mengulang lagi perbuatannya, maka dia berkata, “Tidak. Ini adalah kaki yang terjulur untuk mendurhakai Allah. Maka engkau tidak boleh kembali lagi kepadaku.” Lalu dia membiarkan kakinya terkena hujan dan angin. Ada pula orang lain yang matanya bersirobok dengan seorang wanita. Maka dia pun mencongkel matanya itu. Yang demikian ini tidak boleh dilakukan, sekalipun mungkin boleh dilakukan menurut syariat Yahudi. Kalau pun ada di antara pemeluk agama kita yang berbuat seperti itu, maka itu hanya karena kebodohannya semata, sebagaimana yang dikisahkan dari Ghazwan, seorang ahli zuhud, bahwa suatu kali dia berpapasan pandangan dengan seorang wanita. Lalu dia menempeleng matanya hingga bola matanya keluar.

Kami juga meriwayatkan dari sebagian orang di antara mereka, bahwa suatu saat dia sedang junub, padalah udara saat itu sangat dingin. Dia bersikukuh untuk tetap mandi sambil tetap mengenakan pakaiannya, tanpa melepasnya dan tidak juga memerasnya. Padahal bajunya sangat tebal. Tentu saja yang seperti ini adalah tindakan bodoh yang sama sekali tidak didasarkan kepada ilmu. Tidak selayaknya seseorang bertindak seperti ini. Kami telah menyebutkan perilaku para ahli ibadah yang bodoh seperti ini dalam buku kami. Talbisu Iblis.

Jika seseorang sudah menghisab dirinya, maka dia harus menghukum dirinya jika dia melihat telah melakukan suatu kedurhakaan. Kemudian jika dia melihat dirinya bermalas-malasan dalam mengerjakan suatu keutamaan atau wirid, maka dia harus mendidik diri sendiri dengan banyak melakukan wirid. Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa suatu kali dia pernah ketinggalan melakuan shalat jama’ah. Maka pada malam harinya dia sama sekali tidak tidur. Jika dia tidak melatih dirinya dengan berbagai bacaan wirid, maka dia memaksanya menurut kesanggupannya.

Ibnul-Mubarak berkata, “Sesungguhnya orang-orang shalih dapat menghela diri mereka kepada kebaikan secara suka rela, sementara kita tidak bisa menghela diri kita kecuali setelah memaksanya.”

Untuk mendorong seseorang melakukan mujahadah, maka dia bisa mendengarkan pengabaran tentang orang-orang yang pernah melakukan mujahadah ini dan keutamaan-keutamaan mereka, sehingga kita bisa mengikuti mereka.

Sebagian di antara mereka berkata, “Jika aku sedang malas melakukan ibadah, maka kupandangi wajah Muhammad bin Wasi’ dan mujahadah yang dilakukannya. Kulakukan hal ini hingga beberapa nunggu lamanya. Amir bin Qais pernah mendirikan shalat seribu rakaat dalam satu hari. Al-Aswad bin Yazid pernah puasa, hingga rupanya menjadi pucat. Masruq pernah haji dan dia tidak pernah tidur kecuali dalam keadaan sujud. Daud Ath-Tha’y biasa memakan remukan roti yang dicampur kuah. Setiap dua suapan dia sela dengan bacaan lima puluh ayat. Kurz bin Warabah biasa mengkhatamkan tiga kali setiap hari. Umar bin Abdul-Aziz menangis hingga mengeluarkan darah tatkala dapat menaklukkan Al-Mushily. Abu Muhammad Al-Hariry pernah duduk bersila, tidak tidur selama setahun dan juga tidak berbicara, tidak bersandar ke dinding dan tidak pula menyelonjorkan kakinya. Lalu Abu Bakar Al-Kattany bertanya kepadanya, “Apa sebabnya engkau mampu berbuat seperti itu?” Dia menjawab, “Ilmu kebenaran batin, sehingga dapat membantu zhahirku.”

Siapa yang ingin melihat perikehidupan mereka dan ingin meniru mujahadah mereka, maka hendaklah dia melihat buku kami, Shifatush-Shahwah, tentu dia akan mengetahui pengabaran tentang diri mereka, begitu pula pengabaran tentang para wanita ahli ibadah.

  1. Menghardik dan mencela diri.

Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Barangsiapa membenci dirinya karena Allah, maka Allah akan melindungi dirinya dari kebencian-Nya.”

Anas Radhiyallahu Anhu berkata, “Tatkala Umar bin Al-Khaththab memasuki sebuah kebun, sementara aku dan dia terhalangi sebuah tembok dia berkata, ‘Umar bin Al-Khaththab adalah Amirul-Mukminin. Demi Allah, hendaklah engkau takut kepada Allah wahai putra Al-Khaththab atau engkau benar-benar akan diadzab-Nya’.”

Al-Bahtary bin Haritsah berkata, “Aku memasuki tempat tinggal seorang ahli ibadah, yang di hadapannya ada api yang terus-menerus dinyalakan sambil mencela dirinya sendiri. Dia terus berbuat seperti itu hingga meninggal dunia.”

Ketahuilah bahwa musuhmu yang paling keras adalah dirimu sendiri, yang diciptakan dengan ciri kecenderungannya kepada keburukan dan kejahatan. Lalu engkau diperintahkan untuk meluruskan, mensucikan dan menyapihnya dari sumber-sumbernya. Engkau harus membelenggu dan menuntunnya agar menyembah Allah. Jika engkau mengabaikannya, maka dia akan lepas, dan setelah itu engkau tidak akan bisa selamat. Jika engkau rajin menghardiknya, maka kami berharap engkau akan mendapatkan ketenangan. Maka janganlah sekali-kali engkau lalai mengingatkan diri sendiri. Caranya, engkau harus menghadapi dirimu dan menunjukkan kebodohan dan ketololannya, seraya berkata, “Wahai diri, alangkah bodohnya kamu ini. Kamu membual pandai dan pintar, padahal kamu adalah yang paling bodoh dan dungu. Tahukah kamu akan kemana kamu nanti? Ke surga atau ke neraka? Bagaimana pun mungkin seseorang bercanda padahal dia tidak tahu kemana akan berjalan? Boleh jadi nyawa akan melayang pada hari itu atau keesokannya. Apakah kamu tidak tahu bahwa waktu yang akan datang itu sangat dekat, dan kematian datang secara tiba-tiba tanpa ada peringatan terlebih dahulu dan tidak bisa dipastikan pada umur berapa? Setiap makhluk yang bernyawa bisa mati seketika itu pula secara tiba-tiba. Kalau pun bukan kematian yang datang secara tiba-tiba, maka sakit juga bisa datang secara tiba-tiba, lalu mengakibatkan kematiannya. Mengapa kamu tidak bersiap-siap menghadapi kematian, padahal kematian itu dekat sekali denganmu? Wahai diri, jika kamu lancang dengan mendurhakai Allah, karena kamu merasa yakin bahwa Allah tidak melihatmu, maka alangkah besar kekufuranmu. Kalau memang kami tahu bahwa Allah mengetahuimu, lalu mengapa kamu tidak merasa malu? Apakah kamu mempunyai kekuatan untuk menghadapi siksa-Nya? Cobalah kamu duduk kira-kira satu jam di kamar mandi, atau sulutkan jarimu ke api. Jika penghambatmu untuk istiqamah adalah kecintaanmu kepada nafsu, maka carilah nafsu yang bersih dari kotoran. Berapa banyak satu suapan yang justru menghalangi banyak suapan.”

Apa komentarmu tentang akal yang tidak beres, yang sudah dianjurkan dokter agar dia menjauhi air selama tiga hari, agar dia sehat terlebih dahulu dan agar nantinya dia dapat meminumnya selama hidup? Apa kewajiban akal dalam memenuhi hak nafsu? Bisakah dia bersabar selama tiga hari agar dapat merasakan kenikmatan selama hidup? Ataukah dia akan memenuhi nafsunya lalu menderita selama hidup? Seluruh hidupnya dibandingkan dengan keabadian yang dirasakan para penghuni surga dan siksa para penghuni neraka, lebih sebentar daripada seluruh umur dunia. Manakah yang lebih keras dan lebih lama, penderitaan sabar tidak memenuhi nafsu ataukah penderitaan siksa neraka? Engkau disibukkan kecintaan kepada kedudukan dan tahta. Padahal setelah engkau berumur enam puluh tahun atau sekitar itu, tidak ada lagi kedudukan yang ada di tanganmu. Mengapa engkau tidak meninggalkan keduniaan dan segala bebannya? Mengapa engkau tidak meninggalkan keduniaan dan segala bebannya? Mengapa engkau tidak takut kemusnahan dunia yang begitu cepat? Apakah engkau akan meminta untuk mengganti sandal saat berada di sisi Allah? Barang dagangan telah banyak yang musnah. Yang tinggal hanyalah sisa umur seujung kuku. Andaikan engkau sadar, tentu engkau akan menyesali apa yang sudah lenyap. Lalu bagaimana jika engkau mengalihkan yang akhir kepada yang awal? Berbuatlah pada sisa-sisa hari yang pendek sekalipun masih panjang. Persiapkanlah jawaban untuk menjawab pertanyaan. Keluarlah dari dunia seperti yang dilakukan orang-orang yang bebas merdeka. Siapa yang tunggangannya siang dan malam, maka dia akan dibawa berlalu, sekalipun dia diam. Pikirkanlah saat-saat ini, sekalipun mungkin pengaruhnya tidak seberapa. Menangislah atas apa yang engkau dapatkan. Sesungguhnya sumber air mata itu berasal dari lautan rahmat.

ShareThis