Modal Yakin - Motivasi Menghafal Al-Qur'an

Abid Ihsanudin

عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّأْتِيَنِيْ بِهِمْ جَمِيْعًاۗ

“Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku . . .”

(Surat Yusuf, Ayat 83)

Ayat ini bercerita tentang optimisme Ya’qub ‘alaihissalam.

Dari lubuk hati yang paling dalam, Ya’qub meyakini bahwa Yusuf yang hilang berpuluh-puluh tahun lalu itu sejatinya masih hidup. Yusuf belum mati, sebagaimana berita yang disampaikan anak-anaknya. Bunyamin yang kata mereka ditawan oleh bendaharawan Mesir, serta saudara tertua yang enggan pulang sebelum Ya’qub mengizinkan, semua akan dipertemukan Allah dengannnya.

Keyakinan ini lah yang menghantarkan Ya’qub pada murninya penghambaan dan tulusnya pengharapan kepada Allah.

Keyakinannya juga lah yang membuatnya mampu menahan kesabaran atas makar saudara-saudara Yusuf terhadapnya. Dan atas waktu yang cukup lama, menunggu terwujudnya mimpi yang diceritakan Yusuf kepadanya sewaktu kecil. Meskipun sampai harus buta matanya.

Keyakinannya juga yang mengilhami Ya’qub untuk mengarahkan anak-anaknya agar mencari tahu berita tentang Yusuf. Juga agar mereka tidak berputus asa dari rahmat Allah dalam melaksanaan tugas tersebut.

Maka, pelajaran penting yang bisa kita ambil dari sosok Ya’qub adalah tentang keyakinan yang kuat. Kisahnya adalah testimoni mengesankan yang akan selalu terngiang dalam sanubari siapa saja yang membaca atau mendengarkan ceritanya.

Untuk segala cita-cita dan tujuan, Ya’qub mengajari kita  bahwa keyakinan adalah modal utama sebelum dan ketika melangkah.

Menghafal Al-Qur’an pun demikian. Butuh keyakinan.

Yakin saja dulu. Yakin bahwa menghafal Qur’an tiga puluh juz itu bukan sesuatu yang mustahil. Yakin, bahwa menghafal Qur’an itu mudah. Yakin bahwa kalau hari ini belum mutqin, suatu saat akan diberikan mutqin. Yakin, kalau suatu hari nanti kita akan menyetorkan tiga puluh juz dalam satu majliz. Yakin, yakin dan yakin.

Semakin kuat keyakinan itu digenggam, semakin kuat usaha yang dikerahkan. Semakin kuat pula kesabaran yang dipunyai atas segala halang rintang yang menyertai. Sampai saatnya nanti dipertemukan dengan janji-janji indah yang telah dinashkan dalam kitab-Nya maupun sabda nabi-Nya.

Penghafal Al-Qur’an harus menjauhkan hati dan pikiran dari rasa pesimis alias ketidak yakinan. “lima juz saja lah, terlalu berat kalau harus tiga puluh”, “surat itu terlalu rumit untuk saya”, dan segala variannya.

Kalau sudah begini, jangankan bisa hafal, untuk mulai menghafalnya saja menjadi tidak bergairah.

Sebaliknya, seberat apapun proses menghafalnya, kalau keyakinan atas janji Allah - bahwa menghafalnya adalah mudah - maka akan terasa nikmat dan ringan menjalaninya.

Ingat, yang penting yakin dulu. Setelah itu, rawat keyakinan dengan usaha. Ya, perlu dirawat. Kalau tidak, dia akan layu, mati dan membusuk. Akhirnya terlupakan. Wallohu a’lam bisshowab

Semoga bermanfaat (AI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *