Menghafallah Setulus Do’a Zakariya ‘alaihissalam

Abid Ihsanudin

قَالَ رَبِّ إِنِّى وَهَنَ ٱلْعَظْمُ مِنِّى وَٱشْتَعَلَ ٱلرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا

Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.

QS. Maryam, ayat 4

Pagi itu, saya sampaikan kepada mereka, pesan Ustadz Deden Makhyaruddin yang saya simak beberapa waktu lalu. “Niat menghafal itu bukan ingin hafal, bukan pula khatam 30 juz. Tapi ingin istiqomah bersahabat dengan Al-Qurr’an”.

Emang iya?

Sejenak mari kita ambil permisalan. Makanan itu dikatakan enak, dilihat dari proses ketika makan, atau ketika usai makan. Maka dengan mudah kita katakan, ketika makan. Ya, karena yang bisa merasakan enak tidaknya makanan adalah lidah, bukan perut.

Maka menghafal Al-Qur’an pun harusnya sama. Nikmatnya adalah ketika proses menghafalnya. Lisan, mata, hati dan bahkan seluruh anggota tubuh yang akan bersaksi atas rasa nikmat itu nanti di akhirat. Bukan setelah menyudahi aktifitas menghafal.

Bedanya, jika makan itu akan ada kenyangnya, maka mereka yang telah berhasil menikmati lezatnya menghafal, selesai 30 juz pun tidak akan membuatnya kenyang. Karena menu selanjutnya adalah muroja’ah.

Jika setiap yang menghafal Al-Qur’an memakai prinsip seperti ini, menghafal menjadi lebih nikmat dan tidak terburu-buru. Dan tidak ada lagi ungkapan, “kapan aku selesai hafal Qur’an”, Tidak pula ada rasa kecewa yang muncul karena hafalannya baru sedikit, tidak lancar-lancar, padahal sudah beribu kali dibaca dan dihafalkan.

Ini adalah konsep ikhlas dalam menghafal Al-Qur’an. Orang yang ikhlas, dia akan ridho dengan apa saja yang Allah kehendaki. Asalkan Allah juga ridho. Mau diberi hafalan sedikit atau banyak, mudah atau susah, tidak jadi problem. Karena sejak awal niatnya ikhlas.

Sebab, khatam 30 juz, hafalan yang cepat lancar, terkadang sifatnya masih sangat duniawi. Berapa banyak mereka yang kecewa karena tak mampu menghafal secepat dan selancar teman-temannya. Akhirnya futur, dan tak mau lanjut menghafal. Dalilnya, ‘mungkin memang saya tidak cocok menghafal’, atau ‘mungkin ini bukan passion saya’. Halah gayamu.

Ada juga yang malas membuka mushaf dan murajaah kembali karena hafalan seakan menguap ke angkasa dan sulit meraihnya kembali.

Akhirnya muncul lah istilah mantan penghafal Al-Qur’an. Orang-orang yang lahir dari perasaan menyerah karena terlalu berat melanjutkan hafalan atau mengembalikan hafalan-hafalan yang sudah terlanjur lepas. Wal’iyadzu billah

Coba belajarlah dari ketulusan do’a Zakariya.

Kurang besar apa pengharapan zakaria akan hadirnya keturunan. Dari sejak menikah dengan sang istri hingga beliau menua, tanda-tanda akan datangnya keturunan itu belum juga muncul. Di tambah lagi vonis ‘mandul’ yang diderita istri Zakariya.

Nyatanya Zakariya tidak berhenti, terus minta sama Allah. Alih-alih menyerah, justru dari lisannya keluar ungkapan yang mengherankan pembaca kisahnya, “dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku”. Perhatikan, belum pernah kecewa.

Tidak perlu heran. Begitulah keadaan mereka yang benar-benar memahami makna ketulusan. Asal Allah ridho, mau diberi atau tidak, ya sudah, terserah Allah. Diberi alhamdulillah, tidak diberi tetap alhamdulillah. Jangan-jangan memang Allah lebih ridho ketika keinginan kita belum diwujudkan. Sehingga kita lebih sungguh-sungguh lagi meminta.

Belajarlah dari ketulusan do’a Zakariya.

Di saat satu surat yang benar-benar kita berharap bisa menghafalnya, berulang-ulang kita membacanya, bermacam metode tak luput dicoba, bahkan terkadang kita merasa over memeras otak yang kita punya, seakan enggan lagi meneteskan air pengharapan. Tapi tidak sekalipun membuahkan rasa kecewa. Sebab, kita telah memahami, yang penting Allah ridho dan kita bisa lebih dekat dengan-Nya. Wallohu a’lam bisshowab

Semoga bermanfaat (ai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *