Menghadapi Musibah Ala Nabi Ayyub

Kalau dihitung sejak pertama muncul di China, covid-19 sudah berusia setahun lebih. Sedangkan untuk Indonesia sendiri kurang lebih sebelas bulan, terhitung sejak bulan Maret tahun lalu.

Banyak banget yang merasakan dampaknya. Dari mulai anak sekolah yang bertanya-tanya, kapan berangkat ke sekolah kembali, ibu-ibu di pasar yang dagangannya sepi pembeli, para pengusaha bangkrut, tempat wisata ditutup, sampai tukang parkirnya bingung mau markirin apaan.

Setahun, dan mengubah banyak hal. Memang berat, tapi jangan sampai suudzon sama Allah. Sabar dan jangan lupa mohon sama Allah kemudahan. Ini belum ada apa-apanya dibandingkan penderitaan Nabi Ayyub ‘alaihissalam yang berlangsung bertahun-tahun.

KISAH NABI AYYUB

Nabi Ayyub terkenal sangat kaya dengan harta yang berlimpah, contohnya saja sapi, unta, kambing, kuda dan keledai dalam hal jumlah tak ada yang bisa menyainginya. Beliau juga memiliki tanah yang luas di negeri Batsniyyah yang termasuk daerah Huran. (Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 1: 507 dan Tafsir Al-Baghawi, 17: 176)

Saat usia 70 tahun, Nabi Ayyub diuji Allah dengan penyakit kulit. Tidak ada sedikit pun bagian tubuhnya yang masih sehat kecuali hatinya. sampai beliau harus mengasingkan diri dan hanya dirawat oleh istrinya. Hartanya juga ludes. Kemewahan yang beliau miliki lenyap tak tersisa. Ia bagai orang buangan selama kurang lebih delapan belas tahun. Saudaranya, baik yang dekat ataupun yang jauh menolak kehadirannya.

Di saat-saat sulit itulah, istrinya sampai pernah bertanya kepada Nabi Ayyub yang sudah menderita sakit sangat lama,

“Wahai Ayyub andai engkau mau berdoa pada Rabbmu, tentu engkau akan diberikan jalan keluar.”

Nabi Ayyub menjawab, “Aku telah diberi kesehatan selama 70 tahun. Sakit ini masih derita yang sedikit yang Allah timpakan sampai aku bisa bersabar sama seperti masa sehatku yaitu 70 tahun.”

Istrinya pun semakin cemas. Akhirnya karena tak sanggup lagi, istrinya mempekerjakan orang lain untuk mengurus suaminya sampai memberi makan padanya. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 349-350)

Yassalaaam, saya tidak habis pikir betapa sabarnya Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Sudah bangkrut, sakit, dijauhi orang, lengkap banget penderitaannya. Tapi beliau bersikap husnudzon kepada Allah.

Belajar dari Nabi Ayyub 'alaihissalam artinya kita belajar untuk lebih bersyukur dengan apa yang kita punya hari ini. Masih sehat, bisa kerja, bisa makan, dan masih punya banyak teman. Yang penting kan kebutuhan primer terpenuhi. Hilangkan gengsi.

Setahun yang kita jalani ini jangan Cuma memberi kesan negatif, sampai kita lupa sudah bertahun-tahun kebaikan dan karunia Allah kita miliki. Ingat, dibandingkan ujian yang Allah timpakan, kasih sayang-Nya jauh lebih besar. Jangan habiskan energi yang Allah kasih untuk menggerutu, mengeluh bahkan mencela takdir Allah. Kita hanya akan capek sendiri.

Semoga bermanfaat

Wallohua’lam bisshowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *