Ma'had 'Aly Tahfizhul Qur'an
Darul Ulum
Buniaga - Bogor - Jawa Barat
Abid Ihsanudin

Konsep Menang Kalah Dalam Al-Qur’an

Konsep kemenangan dan kekalahan dalam Al-Qur’an itu berbeda sama sekali dengan konsep manusia pada umumnya.

Dalam logika kita (manusia), yang namanya menang itu ketika mampu mengalahkan lawan, baik dengan melenyapkan musuh atau sekedar membuat musuh mundur ketakutan.

Atau bisa jadi, ketika suatu kelompok bisa menduduki wilayah musuh dan mengusainya, itu baru disebut sebagai sebuah kemenangan.

Tetapi, ternyata Al-Qur’an punya cara pandang tersendiri terkait hal ini. Coba perhatikan ayat ke-51 surat Ghafir,

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),”

Ayat ini adalah bukti bahwa Allah menjamin kemenangan bagi para Rasul-Nya dan kaum yang beriman, di dunia dan di akhirat.

Yang mana kemenangan di dunia itu (berdasar pemahaman manusia pada umumnya), terjadi ketika para rasul itu lebih unggul dibandingkan musuh-musuhnya.

Entah dengan pembalasan langsung dari Allah kepada para penentangnya di dunia, atau dengan skenario peperangan yang Allah siapkan sehingga orang-orang beriman menang atas musuh-musuhnya. Sampai lenyaplah tentara-tentara kebatilan itu, atau mereka lari tunggang langgang dan tak berani lagi menyerang.

Itu menurut logika kita. Nyatanya, ada sebagian kasus, bahkan banyak, yang terjadi justru sebaliknya.

Bukankah ada nabi yang sampai dibunuh kaumnya sendiri, seperti Yahya dan Zakariya ‘alaihimassalam.

Ada juga yang berusaha dibunuh sebelum akhirnya diselamatkan Allah dari kekejian kaumnya, seperti Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, Isa bin Maryam ‘alaihissalam.

Atau diusir dari negrinya sendiri seperti kekasih Allah Ibrahim ‘alaihissalam yang berhijrah ke Syam.

Atau kisah-kisah lain semisal yang membuat kita bertanya-tanya, dimana letak pertolongan Allah kepada para Rasul dan orang-orang beriman sebagaimana yang disebutkan dalam ayat ke-51 surat Ghafir.

Bukankah mereka ini rasul dan para nabi-Nya. Bahkan sebagiannya termasuk penyandang predikat ‘Ulul ‘Azmi.

Mengapa mereka sampai dibunuh, diusir bahkan hidup dalam bayang-bayang intimidasi kaumnya? Dan bukankah pembunuhan dan pengusiran itu sudah cukup menjadi bukti kekalahan ?

Mengapa Allah Ta’ala memilihkan kondisi tersebut bagi para nabi dan wali-walinya, padahal mereka termasuk dalam barisan penerima jaminan kemenangan.

Beginilah Cara Allah Menolong Hambanya yang Beriman

Mari kita perhatikan pendapat Imam Attabari ketika menafsirkan ayat ini.

Ayat “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia”, mengandung dua makna :

Pertama, sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, misalnya dengan meninggikan mereka terhadap orang-orang yang mendustakan Kami dan memberikan kemenangan kepada mereka hingga mereka mampu mengalahkan dan menghinakan, seperti pada Nabi Daud ‘alaihissalam dan sulaiman ‘alaihissalam. Kami memberikan kerajaan dan kekuasaan, sehingga tidak ada orang kafir yang bisa mengalahkan mereka. Juga seperti nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang ditolong Allah terhadap orang-orang yang mendustakannya, dengan cara membinasakan orang-orang yang menentang dan menyusahkannya, serta menyelamatkan para rasul dari orang-orang yang mendustakan dan memusuhi para nabi, seperti pada Nabi Nuh ‘alaihissalam dan kaumnya ; kaumnya ditenggelamkan sedangkan ia diselamatkan. Atau pada Nabi Musa ‘alaihissalam, fir’aun dan kaumnya, Kami membinasakan mereka dengan cara ditenggelamkan, namun Nabi Musa ‘alaihissalam dan orang-orang yang beriman kepadanya dari golongan Bani Israil dan selain mereka, kami selamatkan. Atau dengan cara menimpakan hukuman dalam kehidupan dunia kepada orang-orang yang mendustakan para rasul itu setelah para rasul Kami wafat, lalu Kami binasakan mereka seperti pertolongan Kami kepada Nab Sya’ya’ ‘alaihissalam setelah ia wafat. Atau dengan cara Kami jadikan orang lain mengalahkan para pembunuhnya hingga Kami menangkan mereka terhadap orang-orang yang membunuhnya, seperti yang Kami lakukan terhadap para pembunuh Nabi Yahya ‘alaihissalam. Kami jadikan Bakhtanshar mengalahkan mereka hingga Kami menangkan ia dan pasukan tentaranya terhadap para pembunuh rasul Kami. Atau pertolongan Kami kepada Nabi Isa ‘alaihissalam terhadap orang-orang yang ingin membunuhnya. Kami jadikan orang-orang Romawi membinasakan mereka.”

Pendapat kedua, mengatakan bahwa kalimat ini berbentuk pemberitahuan tentang para rasul dan orang-orang beriman, sedang maksudnya adalah untuk Nabi Muhammad dan orang yang beriman kepadanya. Dengan demikian, takwil ayat ini adalah, sesungguhnya kami pasti menolong Muhammad Rasul Kami dan orang-orang yang beriman kepadanya dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). Sebagaimana kami jelaskan sebelumya, orang Arab menyebutkan berita dalam bentuk jamak, akan tetapi maksudnya satu atau tunggal, jika dalam berita itu tidak disebutkan nama secara khusus.”

Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa, ayat ke-51 surat Ghafir ini adalah wujud pemuliaan Allah Ta’ala kepada kita semua, kabar gembira bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dimanapun, bahwa mereka akan dimenangkan oleh Allah Ta’ala dengan kekuasaanNya. Meskipun kesyrikan telah merajalela dan kedzaliman telah meluas kemana-mana.

Adapun dari pendapat Imam Attabari yang pertama, setidaknya kita dapati tiga macam bentuk pertolongan Allah.

Pertama, para nabi dan rasul menang dan ditolong Allah dari kaum yang memusuhinya.

Kedua, nabi atau rasul selamat sedangkan para penentangnya dihancurkan oleh Allah. Sebagaimana yang menimpa kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam ketika mereka mendustakan nabinya.

Ketiga, terbunuhnya nabi atau rasul dan mungkin beberapa dari pengikutnya, kemudian Allah membalas perbuatan mereka (para pembunuh nabi dan orang beriman) melalui perantara kaum-kaum setelahnya.

Dari ketiga macam gambaran kemenangan di atas, tentu menimbulkan tanda tanya dan rasa penasaran. Pada poin yang ketiga, dimana letak kemenangannya.

Iya, memang endingnya akan ada balasan dari Allah untuk para penentang nabi dan rasul melalui tangan-tangan kaum setelahnya. Tapi itu baru terjadi setelah nabi dan pengikutnya terbunuh. Apakah ini bisa dikatakan sebagai kemenangan, sebagaimana poin pertama dan kedua, yang memang sangat jelas bentuk kemenangannya.

Untuk itulah, penting bagi kita untuk kembali ke poin besar kita. Tentang bagaimana Al-Qur’an memandang makna kemenangan yang haqiqi.

Jadi, ketika seorang nabi dibunuh oleh kaumnya, atau diusir dari negrinya, bukan berarti para penentang itu menang. Juga tidak bisa dikatakan nabi atau rasul serta para pengikutnya dianggap kalah.

Logika semacam itu memang wajar. Tapi perlu dipahami bahwa itulah yang membedakan logika kita (manusia) dengan logika Al-Qur’an. Jika barometer yang kita pakai adalah standar manusia, maka Al-Qur’an menggunakan logika ilahi sebagai barometernya.

Yang mana barometer ini bersandar pada posisi seseorang terhadap agamanya. Yang dalam konteks ini adalah posisi para nabi, rasul beserta para pengikutinya di dalam menggenggam din. Bagaimana mereka bertahan dalam memikul amanah dakwah, istiqomah di atas agama. Meskipun menghadapi tekanan yang luar biasa.

Tentu ini hanya bisa dilalui oleh mereka yang memiliki kekuatan ruhiyah di atas rata-rata. Dan inilah kemenangan yang sesungguhnya. Yaitu di saat prinsip yang dianut tak mampu digoyahkan dengan segala daya dan upaya meskipun harus merelakan nyawa.

Maka, jika terbunuhnya para rasul – yang mereka adalah makhluk paling mulia – bukan dihitung sebagai kerugian dan kekalahan, lebih-lebih terbunuhnya orang beriman yang bukan nabi juga bukan rasul.

Kisah Ashabul Ukhdud

Kisah Ashabul Ukhdud misalnya. Mereka dibunuh secara keji, dibakar hidup-hidup di dalam parit dengan api yang menyala-nyala. Semuanya meninggal, tidak satu pun dari mereka yang selamat. Musnah tak tersisa.

Jika banyaknya korban saat itu dianggap sebagai kekalahan, maka sungguh Ashabul Ukhdud adalah perwujudan dari suatu kelompok orang beriman yang menderita kekalahan paling parah sepanjang sejarah.

Tapi, waqi’nya tidaklah demikian. Lihat saja bagaimana Allah memuji iman mereka, Allah menyanjung keteguhan mereka, bahkan Allah abadikan kisah mereka. Dan itulah makna kemenangan yang sesungguhnya.

Pertempuran Haq dan Batil Tak Akan Berhenti

Sejatinya, pertempuran haq dan batil memang akan terus berlangsung, tak mengenal usai.

وَلَا يَزَالُونَ يُقَٰتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ ٱسْتَطَٰعُوا۟ ۚ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah : 217)

Dan perlu diketahui bahwa kemenangan al-haq atas kebatilan punya bentuk yang beragam. Terkadang menangnya al-haq itu diwujudkan dengan hancurnya kebatilan, terkadang pula sebaliknya.

وَلَا يَزَالُونَ يُقَٰتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran)

Ayat ini menegaskan bahwa kebatilan benar-benar enggan menghentikan permusuhannya terhadap ahlul haq. Mereka tidak akan rela jika kebenaran yang mereka musuhi itu menyebar luas.

Tentu mereka tidak akan meninggalkan medan pertempuran ini dan menyerahkannya pada mereka yang ingin membumikan hidayah.

وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ

“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat”.

Ayat ini menjadi bukti bahwa barometer kemenangan atau kekalahan tidak terletak pada berapa banyaknya korban yang berjatuhan. Tetapi pada seberapa teguh seseorang menggenggam agamanya.

Maka sekali lagi, kondisi-kodisi yang dialami orang beriman, baik itu terbunuh, dipenjara, diusir atau semisalnya tidak bisa serta merta dimaknai itu sebuah kekalahan dan kerugian.

Karena kerugian dan kekalahan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang telah berani melepas agamanya demi kenyamanan dunia.

Dan jika itu terjadi pada diri seorang mukmin, dia telah rugi dunia dan akhiratnya dalam waktu bersamaan.

Dari sini, maka bisa kita pahami, bahwa kemenangan yang nyata itu hanya milik mereka yang tidak membiarkan agamanya dirusak dan digoyahkan oleh keinginan-keinginan yang sifatnya sementara.

Ya, karena mereka yang mengagung-agungkan kekufuran “meskipun mereka hidup dalam kenyaman”, cepat atau lambat kenyamanan itu juga akan lenyap.

Dan yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Padahal kematian bagi mereka itu bukan akhir segalanya, melainkan baru permulaan dari rentetan penderitaan yang akan diterima. Wali’iyadzubillah.

Sabar Menunggu Pertolongan

Kembali ke ayat ke-51 surat Ghafir tadi. Ayat ini tidak membicarakan tentang kapan syari’at Allah akan ditegakkan di muka bumi. Sudah dekat atau masih lama, tidak disebutkan.

Dan bagi kita pun itu tidak menjadi masalah. Sebab, yang diminta pertama kali dari seorang muslim adalah bagaimana dia mampu menegakkan syari’at di dalam dirinya sendiri.

Dengan begitu, maka akan muncul semangat memenangkan Islam, meninggikan Al-Qur’an dan Sunnah dan menegakkan hukum Allah di muka bumi.

Akhirnya, bukan hasil yang dijadikan tolak ukur.

Tapi bagaimana kita berproses. Beristiqomah hingga ajal datang, itu adalah kemenangan, meskipun tak sempat menyaksikan syari’at tegak di muka bumi secara langsung.

Sebab, terkadang Allah jadikan kemenangan itu atas cucuran darah dan keringat kita, dan baru dirasakan hasilnya oleh anak cucu kita nanti.

Wallohu a’lam bisshowab


Tulisan ini disarikan dari artikel yang disusun oleh Syaikh Ibrahmin Shoqr Azza’im hafizhahullah

Referensi : Tafsir Atthabari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *