BELAJAR BUTUH SABAR, SABAR BUTUH BELAJAR

Oleh : Abid Ihsanudin

Ternyata proses belajarnya Musa ‘alaihissalam tidak semulus yang dikira. Kalau kita membaca perjalanan beliau berguru kepada Khadir dalam Qur’an surat Al-Kahfi, kita dapati beberapa kali beliau terlihat tidak bersabar melihat sikap Khadir, sang guru. Meskipun Musa ‘alaihissalam sendiri yakin akan bisa bersabar, sesuai ungkapannya, “insyaallah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.” (Al-Kahfi : 69)

Tapi kenyataan berkata lain. Musa ‘alaihissalam tidak mampu menunaikan janjinya. Sampai beberapa kali berulang, akhirnya Khadir berkata, “inilah perpisahan antara aku dengan kamu, . . .” (Al-Kahfi : 78)

Bagi yang belum tahu kisah ini, coba baca Al-Kahfi dari ayat 60 sampai 82. Agar lebih mantap pemahamannya, jangan lupa baca artinya.

Dari kisah tersebut kita belajar, bahwa kesabaran adalah perkara yang besar dan tidak mudah untuk dilakukan. Terutama dalam proses tholabul ‘ilmi. Bahkan untuk sekelas nabi Musa ‘alaihissalam.

Meskipun jika dinalar, terang saja Musa menampakkan keheranannya atas perilaku sang guru. Lha wong memang apa yang dilakukan Khadir terkesan tidak logis. Hingga membuat Musa tidak bersabar untuk bertanya. Padahal Khadir telah melarangnya untuk bertanya.

Dalam konteks kekinian, proses ketidak sabaran juga sering nampak pada para penuntut ilmu hari ini. Tidak jarang kita jumpai mereka yang enggan berangkat ke majelis ilmu beralasan, “paling juga materinya itu-itu lagi,”, “bosen”, “sudah pernah mendengar materi itu dari ustadz lain”, ada juga yang bilang “lha bacaan qur’an saya saja lebih bagus kok dibanding bacaan ustadz”, dan seterusnya.

Saya hanya bisa bilang, “sombong amat!” ditambah stiker fotonya mas Mandra. hehe

Ya, diantara penyakit yang menghinggapi para penuntut ilmu adalah kesombongan. Dan semua akan bermuara pada ketidaksabaran menjalani proses tholabul ‘ilmi. Tentu saja yang diuntungkan dari sikap semacam ini adalah syaiton la’natullah ‘alaihi. mereka akan senang melihat orang yang enggan mendatangi majelis ilmu. Bahkan alasan-alasan yang dibuat akan semakin halus, sehingga seolah yang dilakukan adalah sesuatu yang benar.

Adapun obat dari penyakit ini adalah justru dengan kembali mendatangi majelis ilmu. Sebagaimana Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya sebab terbesar untuk mendapatkan kesabaran ialah penguasaan seseorang terhadap urusan yang membutuhkan kesabaran, baik secara ilmu maupun pengamalan. Jika tidak, maka orang yang tidak mengetahuinya, atau tidak mengetahui tujuan, hasil, faedah, dan buahnya, maka ia tidak memiliki sebab kesabaran. Sebagaimana firman Allah, “Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.” (Al-Kahfi : 68), dimana Khadhir menjelaskan bahwa sebab adanya ketidaksabaran ialah tiadanya pengetahuan terhadap urusan tersebut.” (At-Taisir, hal. 484)

Maka menuntut ilmu membutuhkan kesabaran, dan kesabaran membutuhkan ilmu. Dua hal ini saling berkaitan dan saling menguatkan. (Tadabbur Kisah Qur’ani – Ibnu Abdil Bari)

Referensi : Tadabbur Kisah Qur’ani karya Ibnu Abdil Bari

ShareThis